Berita

Evert Erents Mangindaan, Menteri yang

Ditulis Pada

br />

Di balik kegilaannya terhadap sepakbola, barangkali tidak banyak yang tahu tentang Menteri Perhubungan Rupublik Indonesia Letnan Jenderal TNI (Purn) E. E Mangindaan. Ternyata, dulu juga dia andal di cabang atletik.

“Selain main bola, jelek-jelek begini, tahun 1960-an saya pelari Ujungpandang di nomor 400 meter. Bahkan saya pernah ikut dalam kejuaraan atletik pelajar Indonesia. Sayang, gagal. Jadi, saya tidak ikut pelajar Asia,” ujarnya suatu hari kepada saya ketika dia masih menjabat sebagai Gubernur Sulut.

Akhirnya, E. E. Mangindaan lebih memilih sepak bola. Walau tidak sampai jadi pemain nasional, selaku pengurus, anak Sulawesi kelahiran Jawa ini setidaknya sudah berbuat banyak untuk kemajuan persepakbolaan di Tanah Air. Ke mana pun dia bertugas, bola pasti menyertainya. Barangkali itu bagian dari gaya hidup Mangindaan.

Bukan Mangindaan bila tidak memanfaatkan peluang yang ada. Ketika bertugas sebagai Gubernur di Sulawesi Utara, sulit baginya untuk melaksanakan program kerjanya tanpa mencantumkan sepakbola. Saat bertugas di Aceh, Surabaya, dan Papua, dia membangun persepakbolaan di sana, dan mampu bicara di tingkat nasional.

Ketika menjadi menteri pun hobi bolanya tak lekang, baik ketika memimpin Kemen PAN, maupun Kemhub.

Orang tuanya E. A. Mangindaan, yang merupakan tokoh pendiri PSSI, memang berasal dari Sulawesi Utara. Tapi sejak lahir di Solo, 5 Januari 1943, E. E. Mangindaan yang di kalangan orang bola lebih dikenal dengan panggilan “Lape” itu, baru di akhir kariernya berkiprah di daerah “Nyiur Melambai” itu.

Selepas menamatkan sekolah rakyatnya di Solo, anak ketiga enam bersaudara E. A. Mangindaan ini, masuk sekolah menengah di Makassar. Semula ayahnya menginginkan dia menjadi dokter atau insinyur. Tapi, begitu lulus SMA, Mangindaan yunior ini malah masuk tentara. “Saya langsung masuk ABRI, bergabung dengan  Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, dan lulus sebagai perwira tahun 1964,” dia menjelaskan waktu itu.

Dia memulai debutnya sebagai pengurus bola ketika menjadi perwira muda saat ditugaskan di Aceh. Di Tanah Rencong itu dia mendapat tempat di hati pencinta bola di Aceh. Persiraja Banda Aceh, yang prestasinya mulai menurun, dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi kesebelasan tangguh dan diperhitungkan lawan. Itu terjadi pada 1970-an. Persiraja menjadi begitu ditakuti lawan di kompetisi perserikatan yang digelar PSSI.

Kiprahnya dalam mengurus sepak bola ternyata sempat mencuri perhatian tahun 1983, ketika arbituren AMN Magelang ini memangku jabatan komandan batalyon Brigade Infantri Cianjur. PSSI yang ketika itu berada di bawah pimpinan Kardono, kebetulan memerlukan perwira menengah muda yang mengerti sepak bola untuk membantu kelancaran roda kepengurusan.

Kardono―saat itu menjabat Sekmil Presidenkemudian merundingkan hal tersebut dengan sekretaris umumnya, Nugraha Besoes. “Pak Kardono menanyakan kepada saya, bagaimana kalau Pak Mangindaan saja yang kita ajak. Pak Mangindaan itu orangnya intens dan loyal sekali terhadap sepak bola di Tanah Air,” cerita Nugraha waktu itu.

“Saya langsung diminta mengirimkan surat ke Kasad yang ketika itu dijabat Jenderal TNI Try Sutrisno. Jawabannya ternyata menggembirakan. Pak Mangindaan diizinkan Kasad. Maka ditariklah Letnan Kolonel Infantri E. E. Mangindaan masuk dalam kepengurusan PSSI 1983-1987, dan kemudian 1987-1991,” Nugraha mengenang.

Setelah masuk ke lingkungan PSSI, seabrek tugas mesti dituntaskannya. Dia, antara lain, memimpin korps pelatih dan manajer tim SEA Games XIII di Bangkok, Thailand, pada tahun 1985. Pengalaman pahit bagi Mangindaan, Indonesia dicukur 0-7 oleh Thailand.

“Kekalahan 0-7 itu jangan menjadikan kita gusar dan seakan-akan langit sudah runtuh. Dari sini kita akan bangkit dan memperbaikinya dengan pola mendasar. Kita harus memiliki sistem kompetisi yang berbobot, sehingga mampu melahirkan bibit-bibit unggul,” ujar Mangindaan waktu itu.

Akibat kekalahan telak itu PSSI menuai kritik habis-habisan dari pers. Tapi Mangindaan tetap tenang dan bicara lembut dengan awak pers, “Marilah kita berpikir secara rasional dan dilembari dengan semangat nasionalisme. Jangan menyudutkan seseorang dalam kondisi prihatin.”

Dia telah menyiapkan program P3I, yang intinya merupakan konsep pedoman bagi keseragaman metode kepeletihan PSSI. Tapi belum sempat konsep itu gol, dia sudah terlempar dari PSSI.

Menjelang akhir tugasnya di kepengurusan 1987-1991 itu, Mangindaan menghimpun para pelatih nasional dan mantan pemain nasional untuk sama-sama menciptakan satu metoda khusus tentang kepelatihan sepak bola Indonesia. Sayang gagasan itu berhenti di tengah jalan. Pengganti Kardono tidak menaruh perhatian terhadap gagasan itu.

Walau aktif di PSSI , Mangindaan tidak melupakan korpsnya. Di lingkungan sepak bola TNI (ABRI waktu itu), peran Mangindaan cukup dominan dan berkali-kali PS ABRI mendominasi gelar juara Wira Malindo. Keadaan itu berbalik ketika dia tidak lagi berada dalam jajaran PSSI. Tapi perhatiannya tetap besar kepada PSSI, antara lain meminjamkan Anatoly Polosin, pelatih PS ABRI, ke PSSI.

Selepas berkiprah di PSSI, Mangindaan mendapat tugas di Jawa Timur.  Dia menjabat sebagai Danrem Baskara di Surabaya. Kegagalan di Sea Games Bangkok, memicu semangatnya menggeluti sepak  bola. Kecintaannya terhadap sepak bola makin menjadi-jadi. Persebaya dibenahinya dan berhasil menjuarai Divisi Utama PSSI Perserikatan. Tidak lama kemudian Lape mulai naik daun.

Pangkatnya naik jadi brigadir jenderal dan menjabat sebagai panglima Kodam Cenderawasih berkedudukan di Jayapura, Papua. Dia tak bisa diam melihat sepakbola Papua yang saat itu mulai redup.

Tim PON Papua yang waktu itu masih menyandang Irian Jaya langsung dibenahi, hasilnya luar biasa, Irian Jaya jadi juara PON. Persipura pun bangkit kembali dari keredupannya dan masuk ke jajaran Divisi Utama Perserikatan dan sekaligus Liga Indonesia. Dua pemain Parsipura Aples Techuari dan Christ Rayangga bahkan sempat bergabung ke Timnas U-19 yang berlatih di Italia.

Sebagai panglima, Mangindaan punya pengalaman menarik. “Ketika bertugas di daerah-daerah terpencil dan pedalaman, saya terharu melihat anak-anak, remaja, dan orang tua setiap sore, berebutan main bola di lapangan. Dari situ saya tergerak untuk minta bantuan di Jakarta. Saya imbau agar mereka mau mengirim bola sebanyak mungkin untuk saya sumbangkan kepada masyarakat di sini,” kenang Mangindaan.

Permintaan ketua Komda PSSI Irian Jaya ternyata dipenuhi. Rekan-rekan Mangindaan di Jakarta, mengirimkan berkarung-karung bola ke Papua. “Bola saya pakai sebagai alat pendekatan untuk berkomunikasi dengan mereka. Setiap ada kunjungan kerja, saya pasti membawa bola sebanyak mungkin di atas helikopter. Begitu sampai di tujuan, saya minta anak buah dan kepala suku mengumpulkan masyarakat di sana. Dalam sekejap, masyarakat turun berbondong-bondong ke lapangan ingin dapat bola,” ujar 'jenderal bola' itu.

Dari ujung Timur sampai ke barat di Aceh, andil Mangindaan cukup besar dalam mengembangkan sepak bola Indonesia. Sebagai Ketua Pengprov (waktu itu Komda) PSSI Irian Jaya, dia bersama Agum Gumelar, berhasil menggiring semua perserikatan Divisi Utama PSSI untuk masuk Liga Indonesia.

Sebanyak 16 tim memberikan dukungan dilaksanakannya Liga Indonesia. Hal itu terjadi setelah Lape menyodorkan pemahaman tentang arti pentingnya Liga Indonesiasebagai alat pemersatu dan untuk meningkatkan kualitas kompetisi. Padahal masalah ini sempat meruyak akibat pro dan kontra yang cukup keras terhadap Liga Indonesia yang merupakan merger kompetisi perserikatan dan Galatama.

Klub Galatama memiliki keunggulan teknis tapi belum diminati penonton. Sedangkan tim perserikatan sangat diminati penonton tapi kurang dalam kualitas. Gagasan merger dengan nama Liga Indonesia tahun 1994 adalah jawaban yang memiliki prospek cukup baik.

Setelah bertugas di Papua, Mangindaan kembali ke kandang militer di Bandung. Dia diangkat sebagai Dan Seskoad. Di sini pun Mangindaan yang sudah menyandang pangkat dua bintang mayor jenderal tetap konsisten dengan sebutan “gila bola”.

Di Bandung dia ikut membenahi Persib Bandung. Hasilnya Persib menjadi juara Divisi Utama PSSI dalam putaran kompetisi perserikatan yang terakhir. Setelah itu bergulirlah Liga Indonesia.

Setelah selesai tugas di Bandung, dia mengemban tugas di daerah asalnya Sulawesi Utara. Dia didaulat rakyat jadi gubernur. Dia pun mulai membagi-bagikan bola ke rakyat.

Dia pun berhasrat memajukan sepakbola di Sulut. Persma Manado pun dibenahi, dan lolos masuk ke Divisi Utama. Manado pun menjadi tuan rumah babak final Divisi I PSSI.

PSSI Sulut pun menggelar Opa Mangindaan Cup 1995, yang merupakan penghormatan kepada ayahnya. Persma dibenahi dengan mengundang pelatih asing dari Chile, Manuel Rodriguez Vega. Dua pemain asing memperkuat Persma. Bahkan kemudia kiper asal Rusia memperkuat Persma.

Dana yang merupakan masa pelik di saat ekonomi sulit waktu itu , bukan halangan. Mangindaan bikin terobosan menggalang dana masyarakat. “Saya lebih senang dengan transparansi. Setiap pengusaha nasional atau multi nasional yang berkiprah di Sulut saya imbau untuk berpartisipasi membangun SDM Indonesia ke arah prestasi yang membanggakan, baik melalui sepakbola maupun olahraga lainnya,” ujar Mangindaan.

Untuk persepakbolaan nasional, Menteri Perhubungan ini telah memberikan sumbangan pemikiran brilian  yang belum ada tandingan sampai saat ini. [] 

Bagikan ke sosial media

Tulis Komentar Kamu

*) Harus diisi

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, disingkat PSSI adalah organisasi induk yang bertugas mengatur kegiatan olahraga sepak bola di Indonesia. PSSI berdiri pada tanggal 19 April 1930 dengan nama awal Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia.

PSSI bergabung dengan FIFA pada tahun 1952, kemudian dengan AFC pada tahun 1954. PSSI menggelar kompetisi Liga Indonesia setiap tahunnya, dan sejak tahun 2005, diadakan pula Piala Indonesia. Ketua Umum PSSI sejak 9 Juli 2011 adalah Djohar Arifin Husin.

Foto-Foto

Indonesia XI 0-2 Liverpool FC Latihan Timnas U19 Timnas Senior vs Belanda Foto Latihan Kyrgystan Indonesia vs Timor Leste (U-23) Drawing play- off IPL 2013

Video

Sambutan Ketua Umum Dalam Rangka Ulang tahun PSSI Bagimu Negeri - Indonesia

Kontak

GBK Pintu X-XI, Senayan P.O. Boz 2305 Jakarta, 10023
→ Email: pssi[at]pssi.or.id